Tampilkan postingan dengan label pengalaman. Tampilkan semua postingan

Kisah Sebotol Pepsi


                “Di depan masjid ada gang kecil masuk aja nanti di kanan jalan ada rumah” penjelasan yang cukup jelas sebenarnya untuk menujukkan posisi rumah yang aku cari sore tadi. Dan itu adalah jawaban yang kuperoleh setelah entah entah berapa kali aku bertanya untuk meyakinkan diri bahwa aku ada di tempat yang benar. Aku melihat sekeliling dan menemukan jalan sempit, hanya saja jalan tersebut membuatku tidak yakin karena tidak dapat dilewati kendaraan bermotor. Jalan tersebut sudah aku lewati sebelum akhirnya aku berbalik karena jalan tersebut hanyalah lorong diantara dua tembok tinggi dari tumah yang ada. Tidak kurang dari dua kali aku memutari jalan di daerah tersebut demi mencari tempat itu. Bahkan sudah dua kali pula aku ke tempat tersebut. Dua kali dengan motor yang berbeda dan waktu yang berbeda walaupun hanya berkisar dalam jam perbedaan tersebut. Tetapi masih dengan orang yang sama yang dengan kerelaan hatinya menemaniku. Tetapi tetap saja rumah yang dicari tidak ditemukan.
                Setelah menghela nafas dan merelakan pulsaku terpakai untuk menanyakan –lagi- tempat tersebut akhirnya aku memutuskan untuk menelepon. Setelah beberapa saat percekapan telepon, aku menyadari sesuatu. Telepon kututup kemudian aku menoleh pada rekanku dengan cengiran konyol di wajah.
“Aku salah nangkep. Masjidnya salah” kataku akhirnya. Dan kami tertawa, menertawakan kebodohan yang kulakukan. Bagaimana mungkin aku sampai salah sebanyak dua kali padahal posisi kedua masjid tersebut berlawanan arah. Dan tidak pula ada dalam jarak yang berdekatan.
Setiap kejadian pasti ada hikmah dibaliknya. Mungkin aku menag harus kembali ke tempat yang salah itu untuk kedua kalinya untuk memberikan jatah rizki tukang cimol yang dititipkan Alloh padaku. Di sisi lain, aku jadi tahu jalan-jalan di daerah tersebut. Bisa jadi memang tidak –atau belum- bermanfaat tapi entah suatu saat nanti. Who knows? Dan aku menikmati jalan-jalan sore yang menyenangkan.
Kejadian sore tadi dimulai dari sebotol pepsi. Botol pepsi yang tiba-tiba diminta adikku untuk dicarikan sebagai bahan membuat roket. Satu botol yang menghasilkan banyak cerita. Dari sms yang dikirimkan entah ke berapa orang, menanyai satu per satu orang yang sedang online facebook sampai petualangan untuk mengambil botol tersebut. Dan semua hanya karena sebotol pepsi.
Semoga semua usaha tersebut menuai berkah. Semoga kesungguhan dalam mencari botol pepsi juga kesungguhannya dalam merakit diberi balasan terbaik. Semoga kerja kerasnya malam ini dibalas dengan kelancaran dalam presentasi besok dan kemenangan dalam perlombaan nanti. Do’a terbaik untukmu dariku :) 
yang dicari-cari :)


Ma’akumunnajaah
diluruskan niatnya lagi ya dek
kalau waktunya pas semoga bisa nyempetin nonton
I’m proud of you :)



Tarawih 17 Raka’at


Ini pengalaman awal ramadhan kemarin yang udah lama pengen  di tulis tapi nggak kesampaian dan baru sekarang ketulis. Yah, ternyata naik motor selama 2 jam buat sampai sana dan langsung balik hanya setelah beberapa jam rasanya lumayan juga ya. Dan percayalah, naik motor malem-malem di gunung dan sepanjang jalannya nggak ada lampu itu tidak semenyenangkan yang dibayangkan *emang siapa yang bilang kalo itu menyenangkan ya? –a* yang seenggaknya dengan pemandangan yang sangat menpesona liat kota dari atas gunung semua kengerian itu terbayar laah :3

Perjalanan ke Gunung Kidul ini sejauh ini adalah perjalanan paling menantang selama aku bisa naik motor. Naik motor selama 2 jam dengan jalan yang seperti di gunung *emang gunung sih namanya aja Gunung Kidul* dan boncengin orang. Waktu berangkat sih enak-enak aja secara masih terang benderang dan bareng-bareng sama yang lain. Pulangnya selain menguji kemampuan bermotor, juga menguji mental dan iman. Jalannya belokannya sama sekali nggak nyantai dan nggak ada lampu masih di tambah naik turun pula. Itu semacam nguji adrenalin juga sih soalnya belokannya nggak keliatan dan rasanya belom selesai belok udah muncul belokan berikutnya. Dan berhubung jalanannya sepi dan minta ditaklukkan semua orang memacu motor dengan kecepatan yang aku nggak bisa ngejar –a jadilah aku tertinggla sendirian di jalanan yang gelap. Tapi kalo disuruh nyoba lagi nggak kapok sih :p

Gunung Kidul yang didatengin ini bukan Gunung Kidul yang aku bayangin. Ini seperti di negeri antah berantah. Nggak ada sinyal dan rasanya jauuuuuh banget padahal masih di Jogja ._.

Semua capek serasa terbayar ngeliat senyumnya adek-adek TPA yang ada di sana dan mengikuti acara dengan antusias. Rasanya selalu menyenangkan tiap kali bisa liat orang lain tersenyum, tertawa, dan bahagia. Yah pokoknya ngeliat orang lain bahagia itu candu :’)

Ngurusin anak kecil itu menyenangkan. Pada akhirnya tetep nggak bisa marah walaupun mereka ngeselin banget :D Gimana nggak ngeselin kalo setiap perkataan yang diomong disela atau malah ditinggal cerita sendiri. Dan sialnya suaraku nggka bisa lebih keras dari mereka -.-

Ngeliat mereka semangat jawab pertanyaan waktu cerdas cermat, nulis semua impian mereka dengan antusias dan nempelin di pohon impian, bahagia banget dapet es kelapa muda dan olive buat buka puasa dan ngeliat mereka dengan tertib sholat berjama’ah rasanya bener-bener buat terharu. Masih akan terus ada orang-orang yang punya mimpi dan akan memperbaiki negeri ini. :)

Sesaat sebelum buka puasa aku sempet nanya ke mbak-mbak yang biasa ngajar TPA disitu tentang tarawih di mushola tersebut. Dan jawabannya membuat aku bingung dan jadi mikir. Kata mbaknya itu sholat disana biasanya 17 raka’at. Wuaaah 17 raka’at?? Aku taunya 11 raka’at kalo nggak ya 23 raka’at. Ini aku yang emang nggak tau atau emang harusnya nggak ada. Langsung ngerasa masih harus banyak banget belajar lagi, iya belajar tentang banyak hal. Juga membuka kembali memori pelajaran jaman dulu. Rasanya berdosa banget deh pernah belajar tapi trus malah ngeluapai begitu aja. Seenggaknya besok-besok kalo ada yang tanya bisa jawab dengan yakin lah.

Perjalanan ke negeri antah berantah di Gunung Kidul itu bener-bener berkesan buatku. Mengajariku banyak hal *ceilah bahasanya*. Aku ngerasa bahagia dan bersyukur banget ada dan besar di lungkungan yang cukup kondusif buat belajar. Punya keluarga dan teman-teman yang luar biasa baik. Nggak pernah ngerasa susah buat cari air. Makan cukup. Tidur masih di kasur. Kurang apalagi coba? Di sana air bersih ternyata harus beli. Akses ke luar juga nggak semudah di Jogja. Kualitas pendidikan jangan dibandingin sama sekolah di kota. Masih butuh bertahun-tahun lah kalo mau nyusul. Kecuali ada yang mau konsen banget buat mengabdi di sana mengembangin. Dan sayangnya aku ngerasa masih belum bisa apa-apa sekarang. :(

Rasanya tersentuh sekali ketika mereka memberikan lempeng yang mereka bilang sebagai oleh-oleh kepada kami. Bahkan dengan segala keterbatasan yang mereka miliki, mereka masih memiliki hati yang begitu lapang untuk member kepada yang lain.

Aku bahagia ada di antara teman-teman yang masih mau meluangkan waktu, tenaga, dan pikiran bua orang lain. Aku bahagia ada diantara orang-orang yang belajar untuk tidak egois hanya memikirkan diri sendiri kendatipun pusing dengan segala macam tugas kuliah. Aku bahagia, sangat bahagia ketika melepas kami ke Jogja salah seorang perwakilan mereka mendo’akan keselamatan dan kesuksesan kami. Bagaimana mungkin tidak bahagia ketika do’a tersebut diaminkan oleh semua jama’ah yang ada di mushola tersebut. Aku pulang dari sana dengan segenap perasaan bahagia dan membawa banyak sekali pelajaran kehidupan dari mereka :)

Perjalanan ke Gunung Kidul dalam acara Geodesi Beramal
2 Ramadhan 1434|10 Juli 2013
Terselip kebanggaan dan kebahagian pada jurusan dan teman-teman tercinta.
GEODESI! SATU HATI!

Dokumentasi
Perjalanan dari parkiran motor ke mushola 
senyum matahari dari hati yang tulus

kami dan mereka (1)

kami dan mereka (2)

Sambutan dari tuan rumah

Sambutan ketua KMTG

Lomba Cerdas Cermat

Games


GLONASS

Pertemuan dengan kalian adalah anugerah bagiku. Tak pernah kusangka aku akan bertemu dengan adik-adik yang sangat bersemangat. Percayalah, semangat kalian membuatku tetap bisa bertahan dan bersemangat hingga akhir ^^

Aku sangat ingat celetukan kalian yang mengatakan kalian akan menjadi kelompok terbaik. Dan sepertinya kalian memang membuktikan bahwa kalian adalah kelompok terbaik. Minimimal bagiku. Tapi aku mengatakan kalian adalah kelompok terbaik pun bukan tanpa alasan. Yel-yel kalian selalu dapat memmbangkitkan kembali semangat yg turun, mencairkan suasana yang sempat tegang, bahkan salah satu yel kalian diadopsi sebagai lagu angkatan kalian. Aku yang harus berterima kasih pada kalian. Karena dari kalian aku belajar selalu bersemangat dan berusaha tetap bertahan apapun yang terjadi. 

wer wer yak,, wer wer yak,,
glonass,, glonass,, glonass,,
dum dum tak dum
glonass,, glonass,, glonass,,
dum dum tak dum
cik cik *2 kali tepuk  
cik cik *2 kali tepuk  
*ulang 2 kali dgn tempo yg bertambah cepat 
-sebenernya lebih asik kalo ada gayanya nih. coba ada rekamannya aku upload juga kali ya :p-

Kalian tahu, bahkan tidak hanya kalian dan angkatan kalian yang tahu dan hafal yel kalian, pun ada panitia yang tertarik pada yel kalian. 

Perjumpaan kita mungkin tidak terlalu lama, tapi pasti banyak salah yang aku perbuat entah sengaja atau tidak. Maaf ya,, Yakinlah, aku tidak pernah benar-benar berniat untuk menyakiti hati kalian. Tapi karena tetap saja aku ada salah aku harus meminta maaf,,
maaf ya, tidak selalu bisa hadir disamping kalian pada saat itu tapi setidaknya iringan do'aku membersamai kalian
maaf karena belum bisa menjadi kakak yang baik untuk kalian, ambil yang baik dan jangan tiru yang buruk yaa
maaf kalo sempat ada kata yg terucap dan menyakiti hati atau sikap yang menyinggung,,
dan maaf untuk semua hal yang tidak berkenan dalam hati kalian,,
kalo ada yang masih ngganjel di hati disampein aja boleh lho,,,
tenang aja aku nggak akan marahin atau tersinggung kok ^^

Makasih banyak yaa kalian sudah menjadi guru dalam universitas kehidupanku, menjadi adik di jurusan tercinta kita, dan menjadi adik yang membanggakan sebagai adik panduku. Makasih juga buat hadiah  yang kalian kasih bermanfaat banget kok. Makasih banyak buat semuanya,, :D

Aku sayang kalian juga :)


Kami geodesi
Kami ada dalam suka dan duka
Geodesi yang tercinta
Kita adalah keluarga
Demi Geodesi tercinta!
Halo-halo,, kita slalu satu
Bagai musik dan lirik
Yang tak terpisahkan
Halo-halo,, kita slalu satu
Bagai kakak dan adik
Yang tak terpisahkan
Halo-halo,,Geodesi satu
Geodesi satu hati tuk selamanya
*aku suka yel kalian yg ini
Makasih hadiahnya. Hadiahnya cantik ^^




Mira
Darwin
Gora
Sapta




Isna
GLONASS

Rio 

Ria

Milzam
Ghali
Ian



Muhammad Milzam Muharram|Ria Purnama Putri|Gora Krisdhi Ramadhania|Made Sapta Hadi|Mira Sri Yuanda|Muhammad Ghali Kurniawan|Rusdiyanto|Muhammad Darwin Hammaadi|Isna Oktiana Nur Rachma

*kapan-kapan foto bareng yuuk, kumpul lagi juga boleh apalagi kalo kalian nraktir aku :p tugas kalian balikinnya kapan-kapan aja yaa hehe 

AKU GAGAL


               Bukan! Kalimat itu bukan kalimat yang diucapkan dengan nada putus asa dan tanpa harapan. Tidak sama sekali! Kalimat itu bukan kalimat yang diteriakkan sebagai wujud keterpurukan. Sama sekali tidak ada niat untuk itu. Itu bukan perwujudan dari kelemahanku karena tidak dapat mencapai apa yang aku inginkan. Tapi justru karena kalimat itulah aku tahu bahwa ada kata berhasil dibaliknya. Karena kalimat itu aku tahu bahwa hidup tidak berhenti di sini dan harus tetap berjalan. Seperti apapun keadaannnya. Senang atau susah. 
                Kegagalan itu menjadi sepotong episode dalam perjalan panjang cerita hidupku. Kegagalan itu memberi warna lain dalam hidupku. Ada tangis dan kecewa mungkin. Tapi itu hanya sesaat. Karena gagal bukan berarti selesai. Masih ada hal yang tetap harus diperjuangkan. Menyesali masa lalu boleh lah. Tapi cukup sampai disitu dan jadikan dia sebagai pelajaran. Untuk apa jika hanya menyesal kemudian mengulangi hal yang sama. Gagal pada hal yang sama adalah sebuah kebodohan. Apalagi itu karena tidak mengambil pelajaran dari masa lalu.
                Gagal adalah kata lain dari belum berhasil. Berarti jika gagal maka akan berhasil. Selama usaha yang dilakukan tidak putus dan do’a terus dipanjatkan. Kesempatan itu masih ada dan menyerahkan pilihan itu kepada aku. Akan aku gunakan atau lepas peluang itu begitu saja.
Sisa umur yang masih Alloh berikan ini entah sampai kapan. Aku tidak tahu kapan udara yang membersamaiku dalam setiap tarikan dan hembusan nafas ini tidak lagi lewat hidung. Aku tidak tahu kapan denyut kehidupan dari jantung ini akan berhenti berdetak. Dan aku tidak tahu apakah aku masih bisa melihat mentari pagi esok hari ataukah malam kelam ini adalah yang terakhir bagiku.
Biarkan kegagalan yang lalu menjadi pelajaran yang dibingkai oleh kearifan. Bukan kebencian yang ada ketika melihat kegagalan itu tetapi sebuah senyuman. Senyuman penyemangat untuk senantiasa berusaha untuk menjadi lebih baik. Perbaikan kecil yang terus menurus pasti pada akhirnya akan menampakkan hasilnya.
Biarkan saja semua orang menghina dan melihat dengan pandangan merendahkan. Aku masih punya Dzat terhebat yang menjadi sandaran. Aku punya Alloh tempat aku bisa menggantungkan semua keinginan dan kepenatanku. Dan jangan salahkan akau jika suatu saat aku yang akan tertawa di hadapan kalian.
 Perjalanan ini belum berakhir. Perjuangan ini belum usai. Masih banyak hal yang harus dibenahi. Masih ada asa yang harus diperjuangkan. Masih ada janji yang harus ditunaikan. Dan aku memilih menyerahkan segalanya padaNya setelah segala usaha dan do’a. Alloh dulu, Alloh lagi, Alloh terus  :)

menyelesaikan yang tertunda
KPFT disertai hujan yang tiba-tiba turun
#refleksi20



Teruntuk Adik-adikku


Garda 13. Nurtanio Pringgoadisryo


Ahad, 2 September 2012
Untuk, adik-adikku yang hebat 
di Keluarga Nurtanio Pringgoadisuryo

Pertemuan dengan kalian adalah suatu anugerah untukku. Aku tidak pernah penyangka akan mendapat kesempatan bertatap muka dengan wajah-wajah optimis yang seolah berkata kepada dunia “Inilah aku, pemuda Indonesia yang siap membawa negeri ini menjadi lebih baik”. Berada di antara kalian mengajariku banyak hal. Belajar tentang perbedaan, kesabaran, penganyoman, kerja sama, toleransi, dan banyak hal lain yang mungkin tidak akan cukup ditulis disini bila disebutkan satu persatu. Menjadi bagian dari kalian adalah kebahagian tersendiri. Segala pengorbanan dan lelah seolah terbayar melihat kalian tetap bersemangat menjalani semua rangakaian acara ini. Aku bangga pada kalian :)
Perjumpaan singkat ini, begitu berkesan untukku. Aku merasa mendapat keluarga baru dengan berbagai karakter unik dan kelebihan masing-masing. Seolah aku melihat keharmonisan disana. Perbedaan itu ada tapi itu bukan masalah. Karena memang yg penting bukan menjadi satu hal yang sama tetapi bagaimana perbedaan itu tidak menjadi penghalang untuk bersatu dan bahu membahu membantu yang lain dan bersatu dalam satu kesatuan yang utuh. Keluarga Nurtanio Pringgoadisuryo. Bersatu seperti semangat semboyan kita, Bhineka Tunggal Ika.
Selanjutnya ijinkan aku menyampaikan maaf kepada kalian. Maaf jika selama memandu kalian aku berkata yang menyinggung perasaan. Maaf jika sikapku ada yang tidak berkenan di hati. Maaf jika aku masih belum bisa memberikan yang sesuai kalian harapkan. Maaf jika aku masih menjadi sosok yang mengecewakan kalian. Maaf jika aku masih belum dapat menjadi contoh yang baik buat kalian. Sungguh tidak pernah terbesit dalam hati untuk sengaja menyakiti hati kalian. Karena itu seuntai kata maaf menjadi begitu berharga untukku untuk menebus semua kesalahanku itu.
Terima kasih kalian telah hadir dalam hidupku. Memberi lebih banyak warna dalam lukisan kehidupanku sehingga tampak lebih indah. Kalian tahu, aku berharap perjumpaan singkat ini tidak selasai pada hari ini. Aku ingin kita tetap satu keluarga yang akan saling menolong ketika yang lain membutuhkan. Kalian selamanya akan menjadi adik-adikku dan kalianpun boleh menganggapku sebagai kakak kalian jika kalian berkenan. Tapi keputusan ini bukan milikku, keluarga ini milik kita bersama jadi kalian juga berhak memutuskan tetap menjadi keluarga Nurtanio Pringgoadisuryo atau akan  melupakannya. Aku tidak akan marah apapun keputusan kalian :)
Ada hal  yang ingin aku pesankan kepada kalian. Jadilah orang yang bermanfaat untuk orang lain. Dimanapun dan menjadi apapun kalian. Jadilah orang yang keberadaannya membuat nafas orang di sekelilingnya lega dan bukan justru sebaliknya. Dengan menjadi orang yang bermanfaat untuk orang lain tentunya kita akan terhindar dari sikap merugikan orang lain. Dari sana, aku percaya ketika kita menjadi orang yang bermanfaat untuk orang lain kita tidak akan menghancurkan negeri ini tapi dapat membawa negeri ini menjadi lebih baik. Selamat menempuh hari-hari menjadi mahasiswa. Jadilah mahasiswa yang peduli dan tidak apatis. Aku tunggu kontribusi kalian untuk kampus dan Negara ini. Dan aku akan ikut menjadi bagian dari kalian yang memperjuangkan perbaikan itu J Jangan pernah bercita-cita menjadi koruptor. Jadilah orang yang jujur dimanapun kalian apalagi jika kalian menjadi orang yang mendapat kepercayaan menjadi pemimpin.
Salam persaudaraan,
Zhafirah Syarafina



terimakasih banyak atas kado dan suratnya :)

PERCAYALAH! HIDUP INI ADALAH KARUNIA


Seorang Bocah di Perempatan
“Mbak boleh ikut sampai UIN?”  Kalimat itu muncul dari mulut seorang bocah yang menyapaku di perempatan gejayan. Aku cukup terkejut awalnya dan pada akhirnya merasa bersalah karena sebelumnya aku telah berburuk sangka padanya dengan mengira dia akan meminta uang dariku. Ini prasangka burukku yang pertama padanya. Aku menyanggupi permintaannya. Toh, jalan yang akan aku lewati memang melalui daerah tersebut. Apa salahnya jika aku memberinya tumpangan. Aku tidak akan kehilangan apapun, pikirku.
Aduh, tidakkah dia berniat jahat kepadaku? Tasku ada dibelakan punggungku dan dompetku berada di dalamnya. Berbagai kemungkinan berseliweran dalam pikiranku. InsyaAlloh  dia tidak berniat buruk, akhirnya kalimat itu kukatakan pada diriku sendiri. Aku yakin Alloh tidak akan menyia-nyiakan orang yang berniat baik.
Aku sempat berpikiran, seandainya aku ada di posisinya mungkin akulah yang akan merasa khawatir kepada orang yang membawaku. Akankah aku diantar sampai tempat yang kuminta atau malah dia akan membawaku pergi dan berniat jahat kepadaku. Tenyata aku telah berbuat jahat kepadanya walaupun mungkin dia tidak menyadarinya. Aku telah berburuk sangka padanya. Padahal dia hanyalah seorang bocah. Anak kecil yang dari segi kekuatanpun kalah dariku. Ini adalah prasangkaku yang kedua.
Aku tidak tahan hanya diam sepanjang perjalananku yang singkat dengan bocah itu. Dan inilah sedikit percakapan yang semapat kulakukan dengannya.
Aku (A) : tadi kesananya naik apa?
Bocah (B): jalan kaki
A : ngapain dik disana?
B : ngamen, buat beli alat sekolah.
A : kelas berapa?
B : kelas 4
Aku terenyuh mendengar penuturannya dari jawaban-jawaban singkat yang diberikannya untuk setiap pertanyaan yang kuajukan. Bayangan adikku sempat terlintas dalam benakku. Dia sebaya dengan adikku. Dan aku tidak bisa membayangkan jika adikku dalam posisinya. Berjuang mati-matian untuk memperoleh biaya membeli alat tulis. Tapi entah mengapa saat itu mudah sekali setan merasuki pikiranku dan menimbulkan prasangaka lagi padanya. Ini adalah prasangkaku yang ketiga. Aku berpikiran bahwa dia berbohong hanya untuk meraih simpatiku.
                Setelah sampai di pertigaan UIN dan berpisah dengfannya setelah ia mengucap terimakasih, aku melanjutkan perjalanan. Saat ini aku baru menyadari, terlalu banyak prasangka yang sudah aku berikan padanya. Mengapa untuk berbuat baik harus merasa ragu dan terlalu memikirkan berbagai hal yang belum tentu benar. Karena sebuah prasangka tentunya memiliki potensi benar dan salah sama besar. Tapi prasangka buruk tentunya bukan suatu yang baik dan patut dilakukan. Tapi berhati-hati tentu saja perlu, itu pembelaanku pada diriku sendiri. Pada akhirnya aku berpendapat,jika ingin berbuat baik lakukan saja. Jangan terganggu oleh pikiran dan prasangka buruk yang menjadikan kita surut. Alloh pasti tahu apa yang sebenernya menjadi maksud kita.

Semangatmu Membuatku Malu
                “Bagi yang sore ini tidak ada kegiatan dan bersedia meluangkan waktunya untuk mengajar anak panti dipersilahkan bergabung. Karena tenaga pengajar dari kami ada beberapa yang izin juga” itu adalah inti dari kalimat yang diucapkan oleh kepala departemen SOSMAS sebelum acara Monday Active benar-benar ditutup. Hari itu aku tidak pernah terpikir bahwa aku akan pergi bergabung untuk mengajar anak-anak panti asuhan itu karena sebenarnya aku mendapat undangan untuk makan-makan dari teman SMAku. Tapi aku tidak menyesal karena meninggalkan kesempatan itu dan memilih mengajar. Ini pengalaman pertamaku bertemu mereka. Sebelumnya aku belum pernah bertemu mereka.
                Perjalan kesana kulakukan setelah maghrib dan sampai disana menjelang isya’. Saat waktu isya’ telah datang aku menyaksikan mereka, anak-anak putri yang bertempat tinggal di sana. Mereka dengan tertib melakukan sholat isya’ berjamaah. Wajah-wajah mereka menyiratkan kebahagian dan semangat walaupun sedikit tersamarkan oleh sikap malu-malu melihat beberapa orang yang belum mereka kenal.
                Tidak berselang lama setelah isya’, lampu aula dinyalakan dan beberapa anak putri datang ke aula tersebut. Mereka mulai menyusun meja dan kursi yang nantinya akan digunakan untuk belajar. Aku dan teman-temanku tergerak untuk membantu mereka dan ikut menyusun meja yang lain. Setelah meja siap, anak-anak yang lain mulai berdatangan dan duduk di tempat yang mereka inginkan. Mereka boleh menanyakan pelajaran apa saja yang mereka inginkan kepada kami, kakak-kakak dari Fakultas Teknik UGM. 
                Setelah aku amati, ternyata mereka terdiri dari hampir semua tingkatan dari SD sampai SMA. Lengkap. Aku berhadapan dengan anak SMP. Dalam perbincangan kami di sela-sela belajar aku mengetahui bahwa yang dia tanyakan ini sebenarnya bukan tugas. Hanya saja dia memang ingin belajar. Sungguh, malu rasanya aku. Merasa kalah oleh seorang anak yang secara usia lebih muda dariku tapi ternyata memiliki semangat yang lebih baik dariku dalam belajar. Tapi aku bersyukur karena secara tidak langsung aku telah diingatkan olehnya.
                Jarum pendek jam di dinding aula saat itu telah mendekati angka Sembilan. Karena takut terlalu malam sampai di rumah, maka aku memutuskan untuk pamit pulang. Dalam perjalanan aku merenungi sikapku dan sikap anak-anak panti yang bersemangat tersebut. Aku merasa malu karena membiarkan diriku kalah oleh rasa malas. Aku merasa mendapat semangat baru melihat mereka. Aku yang mendapat kesempatan yang lebih baik dari mereka tentunya harus sama semangatnya atau bahkan harus leebih bersemangat dari mereka. Perjumpaan singkat malam itu meninggalkan bekas dan menjadi penyemangat dalam diriku.


hidup ini indah dengan segala polemik dan dinamikanya :)

Hikmah Dibalik Masalah

Kali ini aku ingin menceritakan pengalamanku seminggu lalu tepatnya pada tanggal 1 kemarin. Mungkin bukan cerita yang seru atau bahkan spektakuler namun bagiku penuh makna -agak lebay-. Kejadian ini terjadi dalam perjalanan pulang dari acara gathering IAIC Joglosemar (Jogja, Solo, dan Semarang) -bener g ya kepanjangannya itu?-. Jadi, setelah rangkaian acara yang menyenangkan di sela-sela UASku -yang membuatku tidak sanggup belajar untuk hari berikutnya- itu berakhir kami pulang dengan motor. Iring-iringan motor pun mulai bergerak meninggalkan Pantai Parangtritis yang menjadi lokasi gathering kali ini. Karena kakak-kakaknya sudah pulang terlebih dulu, maka iring-iringan ini hanya berisi anak-anak AXIVIC.

Pada awalnya aku termasuk barisan depan dari iring-iringan motor tersebut. Kemudian, aku berhenti sejenak untuk memperbaiki posisi tasku.Setelah itu posisiku berubah menjadi dibelakang. Nomor dua dari belakang tepatnya. Setelah sejenak berjalan meninggalkan pantai, tiba-tiba pada saat melintasi tikungan aku merasakan keanehan pada motorku. tiba-tiba stang motorku terasa berat dan sulit untuk dikendalikan. Aku memperlambat laju motorku. Dan tentu saja itu mengakibatkan aku berada pada urutan terakhir dari iring-iringan tersebut.

Awalnya aku berfikir tas yang aku letakkan di depan mengganggu stang sehingga susah dikendalikan. Tetapi setelah diperhatikan dan posisi tas agak dirubah pun stang masih tetap sulit untuk dikendalikan. Akhirnya aku memutuskan untuk berhenti dan memeriksa apa yang terjadi. Dan. -taraaaaa- ban depan motorku bocor ternyata. :( Perkiraanku tadi benar. Jika bukan karena posisi tas yang mengganggu berarti ban motornya yang bermasalah. Ternyata kemungkinan kedualah yang terjadi.

Dari mulai awal kejadian ini aku benar-benar merasa semuanya Alloh yang mengatur. Mungkin, jika dilihat dari sisi ban motorku yang bocor perjalananku menjadi tidak menyenangkan. Ya, itu benar. Aku ditinggal oleh rombongangan -karena tidak ada yang sadar- kecuali temanku yang sedang berhenti karena entah karena alasan apa. Ban motor bocor yang berarti keluar uang untuk membayar biaya tambal ban plus bonus menuntun motor ke tempat tambal ban terdekat. Satu lagi, jadi terlambat dari janjiku untuk menemui salah seorang temanku.

Aku, percaya memang semuanya Alloh yang mengatur. Dan aku merasakan benar hal itu. Pada saat itu aku tidak sendirian tapi bersama seorang temanku sehingga ada teman yang bisa diajak berbincang dan membuatku tidak sempat mengeluh. Selain itu, dia bahkan dengan sigapnya segera mencari tempat tambal ban terdekat. Alhamdulillah tempat tambal ban itu tidak terlampau jauh dari tempat aku berhenti dan mulai menuntun motorku. Satu lagi hal yang kusyukuri adalah keberadaan 2 temanku yang lain yang kemudian bersedia meenggantikanku menuntun motor :D. Aku bertukar motor dengannya. Dia menuntun motorku dan aku membawa motornya -yang baik-baik saja tentunya-.


Hal lain yang seolah "kebetulan" -karena pasti semuanya telah diatur Alloh- adalah waktu zhuhur yang tiba pada saat sedang menambal ban itu. Andaikata aku tetap bersama rombongan tadi mungkin aku tidak akan melaksanakan sholat zhuhur pada awal waktu. Dan ini menjadi hal lain yang aku bersyukur karenanya. Selain itu, karena sholat zhuhur ini pula aku menyadari keberadaan dan posisi pastiku serta jalan mana yang paling cepat untuk kembali ke Jogja. Sebelumnya aku buta arah dan hanya mengikuti rombongan sehingga tidak tahu pasti jalan yang diambil karena jarang melewati jalan tersebut. 


Setelah sholat dan motor selesai ditambal, kami melanjutkan perjalanana dengan rute yang berbeda dengan rombongan pertama tadi. Mereka mengambil jalan memutar lewat Pantai Depok sedang kami memilih untuk kembali ke jalan utama masuk ke Pantai Parangtritis.Dalam perjalanan pulang ini sempat terlintas dalam pikiranku, mungkin memang sudah seharusnya ban motorku bocor karena dengan begitu aku bisa sholat zhuhur tepat waktu dan sampai di Jogja lebih cepat daripada jika aku harus berjalan memutar lewat Pantai Depok. 


Tidak berhenti sampai di sini aku merasakan kuasaNya dan meyakinkanku bahwa semua ini memang karenaNya dan sudah diatur. Aku tidak jadi terlambat menemui temanku tadi. Walaupun sebelumnya aku sudah mengirimkan pesan yang menginformasikan keadaanku dan permohonan maaf karena aku terlambat datang. Tetapi, ternyata Alloh berkehendak lain sehingga beliau yang harus aku temui itu tidak harus menanti lama karena keterlambatanku.


Kunci motor beliau tiba-tiba hilang dan tidak ketemu-ketemu ketika dicari. Akhirnya beliau pergi dengan menggunakan sepeda motor milik temannya. Karena kuncinya yang hilang itulah beliau juga terlambat menemuiku. Tapi, karena keterlambatan itulah aku dan dia tiba pada waktu yang hampir bersamaan. Subhanalloh, memang semuanya Alloh yang mengatur :)


Kejadian hari itu menjadi salah satu pengalamanku yang benar-benar menyadarkanku pada kuasaNya. Dia tidak tidur dan memelihara ciptaanNya. Mengatur segala sesuatu di alam ini. Pun kejadian buruk -menurut kita- juga Alloh yang mengatur. Dan dari setiap kejadian pasti ada hikmah dibaliknya. Belum tentu hal yang buruk menurut kita buruk di hadapanNya begitu pula sebaliknya hal yang menurut kita baik belum tentu yang terbaik dalam pandanganNya. Jadi, jalani saja apa yang terjadi, berusaha untuk tetap tersenyum karena pasti ada hikmah dibalik setiap kejadian :)




IAIC Joglosemar 
terimakasi Irma, Adib, dan Fuzta yang menemani perjalanan kembali ke Jogja. 
terimakasih AXIVIC dan IAIC Joglosemar yang menyeemarakkan hariku yang suram di tengah UAS. Semoga hasilnya se-semarak hari kemarin :)      

 

Diberdayakan oleh Blogger.

Social Icons

:)

Social Icons

Cari Blog Ini

Featured Posts