Tampilkan postingan dengan label kuliah. Tampilkan semua postingan
| Danbo keren dengan jaket BEM KMFT-nya |
Terimakasih banyak untuk persembahannya. Tidak ada kata mantan dalam keluarga. Cerita ini tidak berhenti sampai closing ceremony kemarin. Ini tentangku, tentangmu, tentang kita. Tentang kalian yang menjadi bagian yang cukup banyak mewarnai kehidupanku. Terimakasih telah hadir dalam hidupku. Persembahan kemarin menjadi penutup manis akhir kepengurusan. Terimakasih adek-adekku,,,
Kabinet inisiatif membumi. Nama yang kemudian menyatukan kita. Terimakasih untuk setahun kemarin. Kalian adalah orang-orang hebat yang aku temui. Cerita tentang kalian tidak akan cukup tertuliskan di sini.
Kita memang tidak lagi bersama. Tapi aku masih merasakan keberadaan kalian. Dalam memori yang terus hidup. Sampai kapanpun.
![]() |
| kabinet inisiatif membumi |
Moh Faza Rosyada| Yanuar Firmansyah| Ahmad Fahmi| Novita Nur Syahfitri| Adinda ajitya Ferina| Wardahtuljannah| Paras Dita| Kori Akbar| Muhammad Rifki Ali| Zaky Dzulfikar Harun| Fahmi Fahrurozi| Tubagus Dimas Aditiarachman|Muchammad Adib| Hendarko Hinu Hardanto
Selamat melanjutkan karya di manapun. Dalam bentuk apapun :)
Posted by Syarofina in bem, kuliah, teknik
2 comments
Siapa yang bilang rumah
di Jogja itu menyenangkan? Terutama jika jarak tempuh kampus ke rumah merupakan
jarak yang ‘tanggung’. Tidak dekat tapi juga rasanya terlalu sayang jika harus
menganggarkan biaya untuk mengontrak atau kos. Rumah di Jogja itu seperti pisau
bermata dua. Di satu sisi ada begitu banyak hal menyenangkan dan keuntungan
yang didapat karena tinggal di rumah. Namun di waktu yang bersamaan ada banyak
tuntutan dan juga ‘etika’ yang harus dipenuhi. Dan bukan perkara mudah untuk ‘melegakan’
permintaaan dari rumah. Seringkali akhirnya terjadi perang batin yang menguras
fikiran dan tenaga. mungkin memang terdengar berlebihan tapi begitulah
kenyataannya.
Siapa yang menyangkal
jika setiap kali makan bisa pulang dan menghemat uang saku adalah sesuatu yang
menyenangkan? Kurasa semua pasti setuju. Lalu jika jarak tempuh untuk pulang ke
rumah bukan waktu yang singkat bagaimana? Apa yang tidak menyenangkan dari bisa
tidur di kamar milik sendiri di tempat yang notabene adalah tempat paling
nyaman untuk istirahat? Kemudian bagaimana jika ketika pulang ke rumah ternyata
malam sudah kian larut dan badan rasanya sudah berteriak minta istirahat sedang
masih ada jarak dan waktu yang harus dilewati untuk sampai rumah? Manalah hal
yang tidak menyenangkan jika ketika ingin makan selalu ada makanan yang
tersedia? Apa yang tidak enak dari memiliki banyak saudara yang bisa dimintai
bantuan ketika tugas yang begitu banyak datang? Apa yang tidak enak dari selalu
dapat berdekatan dengan kedua orang tua sedang yang lain harus merantau jauh?
Semua fasilitas yang diperoleh ketika tinggal
di rumah sebenarnya harus dibayar mahal. Ada banyak hal yang kemudian harus
diperhatikan. Ada hak-hak keluarga yang kemudian harus ditunaikan. Ada kewajiban
kepada masyarakat yang sepantasnya dijalankan. Ada perhatian, waktu, dan
pikiran yang kemudian harus diberikan kepada mereka. Lebih kecil ruang egois
untuk diri sendiri. Karena selayaknya inilah dunia nyata. Inilah kehidupan bermasyarakat.
Betapa sedih ketika
sampai detik ini rasanya belum bisa adil dalam menunaikan hak-hak mereka. Terenyuh
rasanya ketika ditanya, “mbak, kapan di
rumah? kapan bisa bantuin yang di rumah? kok pulangnya malam terus?” Penyesalan
sering menghantui ketika kemudian ketika kekecewaan terucap, “Takkira kamu mau pulang mbak. Aku mau tanya
matematika” Sungguh tidak ada niatan sama sekali untuk mengabaikan yang di
rumah. Karena bagaimanapun merekalah orang terdekat kemana aku akan mencari
pertama kali jika terjadi sesuatu. SIlakan, silakan sampaikan jika kalian
memang membutuhkanku, sampaikan jika kalian ingin aku membantu. Akankah aku
menjawab tidak jika ditanya “mbak, besok bisa bantuin umi? “ Percayalah
aku akan mengusahakan semaksimal yang aku bisa.
Mungkin salahku karena
belum sanggup mengatur waktu dengan baik ketika kemudian tidak bisa
menyelesaikan tugas-tugas rumah sebelum berangkat ke kampus. Bahkan sekedar
menyapu dan cuci piring seringkali terlewat. Mungkin memang aku harus menjadi
kakak yang lebih baik dan perhatian sehingga tahu kapan kalian membutuhkanku. Seharusnya
aku bisa membantu kalian bahkan tanpa kalian harus memintanya. Mungkin aku
masih harus lebih pandai lagi mengatur jadwal sehingga kewajibanku untuk member
manfa’at untuk masyarakat tidak hilang. Agar bisa lagi menghadiri rapat rutin
remaja masjid setiap malam kamis yang hanya dua pecan sekali itu. Juga bisa
kembali mengajar adik-adik penuh semangat di TPA.
Siapa yang bilang
tinggal di rumah bisa bermanja-manja? Siapa yang bilang tinggal di rumah bisa
seenaknya? Siapa yang bilang tinggal di rumah bisa berbuat dan meminta kepada
orang tua sesuka hati? Siapa bilang tinggal di rumah lalu bisa pergi dan pulang
ke rumah semaunya?
Ketika tinggal di rumah,
justru di sanalah real kehidupan. Tinggal
di rumah berarti menjadi bagian dari masyarakat. Ada norma-norma yang kemudian
tidak bisa diabaikan. Pulang malam apalagi bagi seorang perempuan tentunya
bukanlah hal yang bijak. Tidak pernah muncul dalam kegiatan yang ada di
masyarakat juga bukan hal yang wajar. Mengabaikan hak-hak keluarga yang setiap
hari bertemu juga bukanlah hal yang baik. Banyak, masih begitu banyak hal yang harus
diperbaiki lagi dariku.
Sejuta maaf tak akan
sanggup mengganti hati-hati yang sempat terluka karena sikapku. Namun, ijinkan
aku meminta segenggam maaf dari kalian bersama janji dariku untuk berusaha
menjadi lebih baik lagi. Semoga pada akhirnya aku dapat seutuhnya menjadi bagian dari masyarakat, menjadi anak juga kakak
yang baik dan dapat dibanggakan.
Laa yukallifullohu nafsan illa wus’ahaa. Tiadalah
beban itu diberikan kecuali dia mampu menanggungnya. Yaa muqollibal quluub
tsabbit qolbii ‘ala tho’atik, tsabbit qolbii a’la diinik. Semoga niat ini
senantiasa terjaga hanya untuk mendapat ridhoMu Ya Alloh…
Seolah waktu berlari dan ketika benar-benar tersadar
tahun ketiga masa perkuliahan sudah ada di depan mata. Seolah bertanya, apa saja yang sudah kamu lakukan 2 tahun
belakangan ini? Lalu apa yang sudah kamu rencanakan untuk megisi waktuke depan?
Menengok kembali rencana yang terancang semester
lalu, tahun lalu, bahkan 2 tahun lalu. Mengevaluasinya dan kemudian sampai pada
sebuah titik kesimpulan. Masih ada rencana yang sudah tertulis dari beberapa
saat lampau dan belum tercoret dalam daftar list yang telah terlaksana. Masih ada
banyak yang harus dievaluasi kembali sembari tetap mempersiapkan rencana ke
depan. Keep in track ataukah harus
mempersiapkan rencana cadangan?
Rencana yang sudah dibuat bahkan dari semester awal
kuliah, rencana kelulusan yang sudah dicanangkan bahkan dari semester 1,
rencana jumlah SKS yang diambil setiap semester, dan beberapa rencana lain
sepertinya harus masuk tahap evaluasi kembali. Pada kenyataannya hidup tidak
bisa egois dan hanya peduli pada diri
sendiri. Apa bahagianya jika checklist to
do kita tercapai semua sedang banyak yang terkorbarkan? Sedang pada saat
yang sama ada orang lain yang berjuang lebih keras karena pilihan itu? Jika memang
masih ada pilihan untuk kompromi bijakkah untuk tetap memenangkan ego pribadi?
Masih ada beberapa semester untuk memaksimalkan
keberadaan di kampus. Masih ada waktu untuk mengejar yang ingin dilakukan selama
masih menyandang status mahasiswa. Masih ada peluang untuk mengisi hidup dengan
banyak hal bermanfaat lainnya. Dan itu memang sebuah pilihan.
Betapa sepanjang perjalanan kuliah ini berulang kali
niat harus kembali di luruskan. Apa yang dicari selama kuliah ini? Apa tujuan
akhir yang ingin dicapai? Lalu apa lagi yang harus menjadi tujuan jika bukan
ridhoNya? Bukankah jika ridhoNya sudah diberi dan keberkahan telah diturunkan
maka tidak ada lagi hal yang akan menyulitkan? Dan hal yang sama berlaku dalam setiap
perjalanan kehidupan.
Bismillah, semester
baru! Semangat baru! Semangat untuk berlomba-lomba dalam kebaikan. Semangat menuju
surgaNya.
Yaa muqollibal
quluub tsabbit qolbii ‘ala thooatik. Tsabbit qolbii ‘alaa diinik. Ya Allah jaga
aku dalam penjagaanMu karena Engkaulah sebaik-baik penjaga. Berikanlah yang
tebaik bagiku. Terbaik dalam pandanganMu karena Engkaulah yang Maha Mengetahui.
2 hal yang jadi target
semester ini : hafalan dan bisa nyetir mobil :D
Target IP dan kuliah masih sama dengan yang sebelum-sebelumnya. SEMANGAT!!! ^^
Target IP dan kuliah masih sama dengan yang sebelum-sebelumnya. SEMANGAT!!! ^^
Diberdayakan oleh Blogger.
Social Icons
:)
Social Icons
Cari Blog Ini
-
Tidak ada yang melarang orang bermimpi. Seaneh apapun dan semustahil apapun juga sebanyak apapun. Mumpung mimpi masih gratis ya jadi tuli...
-
@syarofina hohoho.. sip2.. semangat mbaaak! yang diomongin ke aku juga jangan cuman ngomong doang yaa! :p Sebaris kalimat yang sebenarnya...
-
Hujan merupakan tetesan molekul air yang turun dari langit dengan membawa rahmat. Air merupakan komponen pokok dalam kehidupan. Hujan...
-
Tuhan.... kalau tak Kau bolehkan aku miliki dia, lalu untuk apa rasa ini Kau cipta? kalau tak Kau bolehkan aku nyatakan cinta, lalu kenapa...
-
Satu untuk Semua. Semua untuk Satu. Slogan itu sudah sering terdengar. Kalimat itu tidak asing dan barangkali sudah familiar dalam k...
-
Tidak banyak waktu yang tersisa di penghujung 2014 ini. Bilangan angka yang terlewati dalam hidupa bahkan telah berubah 23 hari yang lalu. ...
-
Bukan tentang jarak yang tercipta Bukan tentang tempat yang berbeda Bukan pula tentang waktu yang berjeda Ini hanya tentang cerita Ujungnya ...
-
Siapa yang bilang rumah di Jogja itu menyenangkan? Terutama jika jarak tempuh kampus ke rumah merupakan jarak yang ‘tanggung’. Tidak dek...
-
Pasrah, menyerah, kalah Bahkan sebelum semua dimulai Bodoh! Hakikat kehidupan mana yang kau maknai? Hidup itu adalah anugrah ...
-
Aku Rindu,,, Aku rindu dirinya yang akrab dengan al Qur’an. Tiada hari tanpa memembacanya. Hari-harinya banyak dihabiskan untuk berinter...
